Tugas 5

Posted: 20 October 2011 in Uncategorized

Ada lima Element of Art tambahan dari postingan sebelumnya, yaitu Pattern, Perspective Simmetry, Texture, Line, dan Depth of Field.

1. Pattern

Pattern atau dalam bahasa Indonesianya disebut pola adalah Pola/pattern secara gampang bisa diartikan sebagai perulangan. Perulangan disini bisa jadi adalah perulangan bentuk, garis, warna, benda atau obyek apapun, dan perulangannya mungkin dalam format yang teratur maupun sedikit tidak teratur. Seorang fotografer yang jeli akan mampu memanfaatkan perulangan ini dalam sebuah foto, sehingga hasilnya bukan saja indah namun juga memiliki daya tarik kuat bagi mata yang melihatnya.

contoh pola yang saya ambil :

Informasi :

  • kamera : NIKON D80
  • diafragma : f/5
  • exposure time : 1/125 sec.
  • ISO speed : ISO – 800
  • Focal length : 16mm
  • Waktu dan tempat : 9th Oct 2011 pukul 15.39 WIB – Sariwangi, Bandung

2. Simmetry

Sebuah foto yang simetris dipadu dengan komposisi serta Point of Interest(POI) yang baik dapat menghasilkan foto yang sangat bagus. Contoh foto dengan unsur simetris:

Informasi:

  • kamera : Canon EOS 1100D
  • diafragma : f/7.1
  • exposure time : 1/200 sec.
  • ISO speed : ISO – 200
  • Focal length : 43mm
  • Waktu dan tempat : 11th Oct 2011 pukul 06.42 WIB – Cipaku, Bandung

3. Texture

Gambar memiliki struktur 2 dimensi dengan penggunaan tekstur yang baik dapat memberikan efek foto menjadi lebih hidup. Misalnya foto dibawah ini:

Informasi:

  • kamera : Canon EOS 500D
  • diafragma : f/5
  • exposure time : 1/60 sec.
  • ISO speed : ISO – 200
  • Focal length : 44mm
  • Waktu dan tempat : 9th Oct 2011 pukul 09.40 WIB – UPI, Bandung

4. Line

Mata manusia secara alami mengikuti garis yang ada dalam gambar. Dengan menentukan bagaimana menempatkan sebuah garis / alur pada foto kita, kita dapat mengarahkan perhatian ke arah objek yang kita mau. Sehingga mata bergerak sepanjang foto tersebut.  Contoh:

Informasi:

  • kamera : Canon EOS 1100D
  • diafragma : f/7.1
  • exposure time : 1/800 sec.
  • ISO speed : ISO – 200
  • Focal length : 43 mm
  • Waktu dan tempat : 11th Oct 2011 pukul 06.43 WIB – CipakuI, Bandung

5. Depth of Field

Karena foto adalah media yang bersifat dua dimensi, kita harus dapat menceritakan sebuah suasana dengan sempurna dengan memberikan kedalaman dalam foto. Sehingga objek terlihat lebih ril dan menarik.  Contoh fotonya dibawah ini yang saya ambil di UPI, Bandung.

Informasi:

  • kamera : Canon 500D
  • diafragma : f/5.6
  • exposure time : 1/400 sec.
  • ISO speed : ISO – 200
  • Focal length : 55 mm
  • Waktu dan tempat : 9th Oct 2011 pukul 9.06 WIB – UPI, Bandung
sumber artikel:

Element of Art

Posted: 3 October 2011 in Uncategorized
Tags: ,

Siluet

Siluet adalah efek yang dihasilkan dalam fotografi karena adanya perbedaan signifikan antara pantulan cahaya objek utama di bagian depan gambar dengan latar belakangnya. Untuk menghasilkan siluet, cahaya dari bagian belakang objek harus sangat terang kemudian ditangkap dengan mengukur kerapatan cahaya latar belakang.

  1. Siluet juga bisa dihasilkan dengan menghalangi pantulan cahaya objek utama secara selektif. sumber

contoh siluet yang penulis ambil:

informasi:

  • kamera : canon EO5 1100D
  • Dimensi : 4272 x 2848
  • diafragma : f/7.1
  • exposure time : 1/4000 sec.
  • ISO speed : ISO – 100
  • Focal length : 55mm
  • Waktu dan tempat : 3/10/2011 pukul 7.15 WIB – Panorama, Bandung

Framming

Salah satu cara untuk menghasilkan foto kreatif adalah mengkomposisikan objek dengan jalan membungkus objek dengan frame. Teknik framing didapatkan dengan menambahkan objek yang berlaku sebagai batas atau frame dari subjek foto. Selain itu teknik framing juga dapat dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan area pada subjek.
Untuk mendapatkan foto dengan teknik framing dapat menggunakan objek seperti ranting pohon, jendela, jembatan, manusia, dll. Frame tidak selalu berada melingkari subjek, bisa jadi hanya 2 sisi subjek atau 1 sisi saja, tergantung dari kreativitas.
contoh frame yang penulis take :
informasi:
  • Kamera : Canon EO5 1100D
  • Dimensi : 4272 x 2848
  • Diafragma : f/5.6
  • Exposure Time : 1/60 sec.
  • ISO speed : ISO – 200
  • Focal length : 47mm
  • waktu dan tempat : 3/10/2011 pukul 8.42 WIB Lembang – Bandung
sumber artikel:

Macam – Macam Kamera

Posted: 24 September 2011 in Uncategorized
Tags: ,

Dewasa ini, berbagai macam kamera sudah banyak menyebar di pasaran. Berbagai macam jenis kamera tersebut mempunyai kegunaan sesuai dengan spesifikasinya sendiri. Berikut kami paparkan;

Macam Kamera Berdasarkan Media Penangkap Media

Kamera film menggunakan pita seluloid (atau sejenisnya, sesuai perkembangan teknologi). Butiran silver halida yang menempel pada pita ini sangat sensitif terhadap cahaya. Saat proses cuci film, silver halida yang telah terekspos cahaya dengan ukuran yang tepat akan menghitam, sedangkan yang kurang atau sama sekali tidak terekspos akan tanggal dan larut bersama cairan pengembang (developer).

Kamera Film

Jenis kamera film yang digunakan adalah dari jenis 35 milimeter, yang menjadi popular karena keserbagunan dan kecepatannya saat memotret, karena kamera ini berukuran kecil, kompak dan tidak mencolok. Lensa kadang dapat dipertukarkan, dan kamera itu dapat memuat gulungan film untuk 36 singkapan, bahkan kadang lebih.

  • Jenis-jenis film berdasarkan ukuran:
  1. Small format (35mm)
  2. Medium format (100-120mm)
  3. Large Format
  • Pembagian film berdasarkan jenis bahan dan kesensitifannya:
  1. Film hitam putih
  2. Film warna
  3. Film positif
  4. Film negative
  5. Film daylight
  6. Film tungsten
  7. Film infra merah (sensitive terhadap panas yang dipantulkan permukaan objek)

Kamera Polaroid

Kamera jenis ini memakai lembaran polaroid yang langsung memberikan gambar positif sehingga pemotret tidak perlu melakukan proses cuci cetak film.

Kamera Digital

Kamera jenis ini merupakan kamera yang dapat bekerja tanpa menggunakan film. Si pemotret dapat dengan mudah menangkap suatu objek tanpa harus susah-susah membidiknya melalui jendela pandang karena kamera digital sebagian besar memang tidak memilikinnya. Sebagai gantinya, kamera digital menggunakan sebuah layar LCD yang terpasang dibelakang kamera. Lebar layar LCD pada setiap kamera digital berbeda-beda.

Sebagai tanda penyimpanan, kamera digital menggunakan internal memory ataupun external memory yang menggunakan memory.

Macam Kamera Berdasarkan Mekanisme Kerja

Kamera Single Lens
Kamera ini memiliki cermin datar dengan singkap 45 derjat dibelakang lensa, sehingga apa yang terlihat oleh pemotret dalam jendela pandang adalah juga apa yang akan ditangkap pada film. Umumnya kamera ini digunakan setinggi pinggang ketika dipotretkan.Kamera instan adalah dimilikinya mekanisme automatik pada kamera, sehingga berdasar pengukur cahaya (lightmeter atau fotometer), lebar diafragma dan kecepatan pemetik potret secara otomatis telah diatur.

Kamera Instan

Istilah instan adalah dimilikinya mekanisme automatik pada kamera, sehingga berdasar pengukur cahaya (lightmeter atau fotometer), lebar diafragma dan kecepatan pemetik potret secara otomatis telah diatur.

Macam Kamera Berdasarkan Teknologi Viewfinder

Viewfinder memainkan peranan penting dalam penyusunan komposisi fotografi. Fotografi ahli biasanya akan lebih viewfinder dengan kualitas baik dan mampu memberikan gambar tepat seperti apa yang akan tercetak.

Kamera Saku

Jenis yang paling popular digunakan masyarakat umum. Lensa utama tak bisa, umumnya otomatis atau memerlukan sedikit penyetelan cahaya yang melewati lensa langsung membakar kedium. Kelemahan film ini adalah gambar yang ditangkap oleh mata akan berbeda dengan yang akan dihasilkan film, karena ada perbedaan sudut pandang jendela pembiddik (viewfinder) dengan lensa.

Kamera TLR

Kelemahan kamera potret diperbaiki oleh kamera TLR (Twin Lens Reflect). Jendela bidik diberikan lensa yang identik dengan lens dibawahnya. Namun tetap ada kedalahan paralaks yang ditimbulkan sebab sudut dan posisi kedua lensa tidak sama.

Kamera DSLR (Digital Single Lens Reflect)

Pada kamera ini, cahaya yang masuk ke dalam kamera dibelokkan ke mata fotografer sehingga fotografer mendapatkan bayangan yang identik dengan yang akan terbentuk saat fotografer memencet tombol kecepatan rana, cahaya akan dibelokkan kembali ke medium (atau film). Lensa kamera SLR dapat diganti-ganti sesuai kehendak. Dudukan lensa pada bodi kamera berbeda benda tergantung merek kamera, mulai dari lensa wide (sudut lebar), tele(jarak jauh) dan lensa normal (standar 50mm), tersedia pula lensa zoom dengan panjang lens bervariasi.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kamera

Twin Lens Reflect

Posted: 21 September 2011 in Uncategorized
Tags: ,

Kamera Twin Lens Reflex atau yang biasa disingkat TLR merupakan kamera yang memiliki dua lensa dengan panjang fokal sama. Kamera ini biasanya digunakan sejajar dengan perut pengguna karena viewfindernya terletak di bagian atas dengan cermin 45 derajat. Kamera ini tampak sangat jadul, tetapi dipopulerkan kembali oleh serial kamen rider Decade sebagai salah satu bagian dari fashion Tsukasa Kadoya.

                                                                        Twin Lens Reflect

Keuntungan dari kamera ini yaitu :

  1. Keuntungan utama TLR yaitu kesederhanaan mekanik dibandingkan dengan lensa tunggal. SLR harus menggunakan beberapa metode untuk menghalangi cahaya dari film mencapai selama fokus, baik dengan pesawat rana fokus (paling umum) atau dengan cermin refleks itu sendiri. Kedua metode noise signifikan terhadap operasi kamera, serta curah signifikan dan berat. Kebanyakan TLRs menggunakan daun rana di lensa. Hanya suara mekanik selama eksposur adalah dari daun rana membuka dan menutup. Kebanyakan TLRs juga secara signifikan lebih ringan dalam berat daripada SLR medium format.
  1. Berbeda dari lensa kamera tunggal refleks (SLR) dalam beberapa hal. Pertama, tidak seperti hampir semua SLR, TLRs memberikan citra kontinu pada layar finder. Tampilan tidak keluar tidak hitam saat terpapar.
  1. Karena cermin tidak perlu keluar, gambar dapat diambil lebih dekat ketika waktu shutter ditekan oleh fotografer. Dengan kamera ini, shutter lag (keterlambatan menutup rana) dapat diperkecil sehingga menguntungkan dalam peotretan aksi-aksi cepat.
  1. Bagus untuk “foto candid” karena keberadaan kamera terletak di dada dengan digantungkan dengan tali leher.
  1. Model dengan daun jendela daun dalam lensa daripada jendela focal-plane dapat menyinkronkan dengan flash dengan kecepatan lebih tinggi dari SLR bisa. Kombinasi fitur-fitur ini sangat menguntungkan saat mengambil gambar aksi berpose (seperti, misalnya, seorang seniman bela diri mengeksekusi tendangan atau melompat) dalam kombinasi dengan flash intensitas tinggi elektronik untuk membekukan tindakan.
  1. Karena ketersediaan kamera medium format dan kemudahan komposisi gambar, TLR juga disukai oleh banyak potret studio untuk pose statis.
  1. Keuntungan lain dari desain TLR dapat dilihat saat paparan panjang diperlukan. Selama pemaparan, cermin suatu SLR yang harus ditarik kembali, pingsan foto dalam jendela bidik. Sebuah cermin TLR adalah tetap dan lensa tetap terbuka mengambil seluruh eksposur, membiarkan fotografer memeriksa gambar saat pemaparan sedang berlangsung. Hal ini dapat memudahkan penciptaan efek pencahayaan khusus atau transparansi.

 Hasil Foto dari Kamera TLR:

Sejarah Fotografi

Posted: 21 September 2011 in Uncategorized
Tags: ,

Sejarah Fotografi dimulai pada abad ke-19. Tahun 1839 merupakan tahun awal kelahiran fotografi. Pada tahun itu, di Perancis dinyatakan secara resmi bahwa fotografi adalah sebuah terobosan teknologi. Saat itu, rekaman dua dimensi seperti yang dilihat mata sudah bisa dibuat permanen.

                                                                  Camera obscura

Sejarah fotografi bermula jauh sebelum Masehi. Pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM), seorang pria bernama Mo Ti mengamati suatu gejala. Jika pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil (pinhole), maka di bagian dalam ruang itu akan terefleksikan pemandangan di luar ruang secara terbalik lewat lubang tadi. Mo Ti adalah orang pertama yang menyadari fenomena camera obscura. (The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico Press tahun 1991)

                                                                 Percobaan Mo – Ti

Berabad-abad kemudian, banyak yang menyadari dan mengagumi fenomena ini, sebut saja Aristoteles pada abad ke-3 SM dan seorang ilmuwan Arab Ibnu Al Haitam (Al Hazen) pada abad ke-10 SM, yang berusaha untuk menciptakan serta mengembangkan alat yang sekarang dikenal sebagai kamera. Pada tahun 1558, seorang ilmuwan Italia, Giambattista della Porta menyebut ”camera obscura” pada sebuah kotak yang membantu pelukis menangkap bayangan gambar (Bachtiar: 10).

                                                          Tenda Camera Obscura

Menurut Szarkowski dalam Hartoyo (2004: 21), nama camera obscura diciptakan oleh Johannes Kepler pada tahun 1611. “Johannes Keppler membuat desain kamera portable yang dibuat seperti sebuah tenda, dan memberi nama alat tersebut: camera obscura. Didalam tenda sangat gelap kecuali sedikit cahaya yang ditangkap oleh lensa, yang membentuk gambar keadaan di luar tenda di atas selembar kertas”.

Berbagai penelitian dilakukan mulai pada awal abad ke-17 ,seorang ilmuwan berkebangsaan Italia – Angelo Sala menggunakan cahaya matahari untuk merekam serangkaian kata pada pelat chloride perak. Tapi ia gagal mempertahankan gambar secara permanen. Sekitar tahun 1800, Thomas Wedgwood, seorang berkebangsaan Inggris bereksperimen untuk merekam gambar positif dari citra pada camera obscura berlensa, hasilnya sangat mengecewakan. Humphrey Davy melakukan percobaan lebih lanjut dengan chlorida perak, tapi bernasib sama juga walaupun sudah berhasil menangkap imaji melalui camera obscura tanpa lensa.

Akhirnya, pada tahun 1824, seorang seniman lithography Perancis, Joseph-Nicephore Niepce(1765-1833), setelah delapan jam meng-exposed pemandangan dari jendela kamarnya, melalui proses yang disebutnya Heliogravure (proses kerjanya mirip lithograph) di atas pelat logam yang dilapisi aspal, berhasil melahirkan sebuah imaji yang agak kabur, berhasil pula mempertahankan gambar secara permanent. Ia melanjutkan percobaannya hingga padatahun 1826 inilah yang akhirnya menjadi sejarah awal fotografi yang sebenarnya. Foto yang dihasilkan itu kini disimpan di University of Texas di Austin, AS.

Penelitian demi penelitian terus berlanjut hingga pata tanggal tanggal 19 Agustus 1839, desainer panggung opera yang juga pelukis, Louis-Jacques Mande’ Daguerre (1787-1851) dinobatkan sebagai orang pertama yang berhasil membuat foto yang sebenarnya: sebuah gambar permanen pada lembaran plat tembaga perak yang dilapisi larutan iodin yang disinari selama satu setengah jam cahaya langsung dengan pemanas mercuri (neon). Proses ini disebut daguerreotype. Untuk membuat gambar permanen, pelat dicuci larutan garam dapur dan asir suling. Januari 1839, Daguerre sebenarnya ingin mematenkan temuannya itu. Akan tetapi, Pemerintah Perancis berpikir bahwa temuan itu sebaiknya dibagikan ke seluruh dunia secara cuma-cuma.

Fotografi kemudian berkembang dengan sangat cepat. Melalui perusahaan Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografi dengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis, sejalan dengan perkembangan dalam dunia fotografi melalui perbaikan lensa,shutter, film dan kertas foto.

Tahun 1950, untuk memudahkan pembidikan pada kamera Single Lens Reflex maka mulailah digunakan prisma (SLR), dan Jepang pun mulai memasuki dunia fotografi dengan produksi kamera NIKON. Tahun 1972 kamera Polaroid temuan Edwin Land mulai dipasarkan. Kamera Polaroid mampu menghasilkan gambar tanpa melalui proses pengembangan dan pencetakan film.

Kemajuan teknologi turut memacu fotografi secara sangat cepat. Kalau dulu kamera sebesar tenda hanya bisa menghasilkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.

            Sumber:  http://www.superinspirasi.com/sejarah-fotografi

Pertama

Posted: 16 September 2011 in Uncategorized

Blog untuk belajar fotografi. Bismillah